Fase Kesedihan

7:54 pm

-->
Pernahkah kalian kehilangan seseorang yang kalian sayangi karena terlebih dahulu menghadap kepada Sang Kekasih? Bagaimana perasaan kalian saat itu? Sedih? Marah? Tidak terima?!! Saya pernah merasakannya. Pertama kali saat saya berumur sepuluh tahun, Aba’ (ayah) saya meninggal. Lalu saat berumur empat belas tahun, Andi’ (mama) saya menyusul. Hanya terpaut empat tahun, dengan usia yang sedang labil-labilnya, saya menjadi yatim piatu. Sepanjang hidupku, mungkin itulah cobaan yang terberat yang diberikan Sang Kekasih kepadaku.

“Bagaimana kau menghadapinya?”
“Apa yang kau rasakan saat itu?“

Pertanyaan itu sering menjadi pertanyaan yang dilontarkan kepada ku, baik secara langsung, maupun dengan diam. Dengan mengingat saat-saat itu, bisa dikatakan, ada empat fase yang kulalui dan mungkin akan kalian lalui saat kehilangan seseorang yang kalian cintai. Karena sesungguhnya kematian dan perpisahan itu PASTI adanya.

Fase Pertama:
Awalnya saya melakukan penolakan disusul ketidak percayaan. Berharap ini cuma mimpi buruk dan sebentar lagi saya akan terbangun dan semuanya akan baik-baik saja.

Fase Kedua:
Saat KENYATAAN itu terpampang di depanku dan saya tidak bisa lagi menyangkal bahwa ini semua mimpi, saya merasa MARAH!!! Ya, marah! Marah terhadap semua yang ada. Marah kepada Aba’ dan Andi’ yang meninggalkan ku, marah kepada keluarga ku yang lain, marah kepada orang-orang disekitar ku, marah terhadap dunia ini, dan terutama kepada Sang Kekasih.

Ini fase yang teramat sulit kulalui. Aku membenci apapun dan siapapun saat itu. Aku iri dengan semua orang yang tidak mengalami nasip seperti saya. Aku menjadi orang yang sinis. Tapi tentu saja saya tidak memperlihatkannya kepada orang-orang, bertopenglah aku layaknya orang-orang yang munafik.

Fase Ketiga:
Seiring berjalannya waktu, rasa marah itupun menguap. Benar memang adanya, waktu adalah obat segalanya. Marah menguap, tertinggallah kesedihan bersamaku dan dengan bantuan waktu jualah, kesediahan itu menjelma menjadi penerimaan dan keikhlasan. Aku berdamai dengan diri ku dan kepada Sang Kekasih aku mulai mendekatinya kembali.

Fase Keempat:
Kemudiaan, hal yang paling membahagiaan untuk ku, saat aku teringat pada sesuatu yang Beliau katakan atau lakukan, aku dapat tersenyum (bahkan terkadang tertawa). Mengingat Aba’ dan Andi’ tak pernah lagi menyakitkan. Hanya ada rasa syukur, memiliki mereka sebagai orangtua.


You Might Also Like

4 comments

  1. baca tulisan ini saya jadi terharu dan salut sekali sama Kak Dwi...

    Tidak semua orang sanggup survive jika berada di posisimu kak..

    GOD Bless YOU.!

    ReplyDelete
  2. salut sama kamu dwi..
    kita punya nasib yang sama, tapi sampai sekarang saya masih sulit menerima kenyataan..

    ILMU IKHLAS Tuhan itu memang yang paling sulit yaaa..

    ReplyDelete
  3. wuih hebat ih, kamu bisa tegar!
    *peyuk*

    p.s. aku cowok dwee, jangan panggil aku mbak ya

    ReplyDelete
  4. Meike: makasi dek :)

    Dhila: ayo sayang hidup terus berlanjut :) semangat!!!

    Gerandis: *peyuk balik* oh! hehehe cow toh :o habis namanya “gerandis” mbak! eh mas! jadi pikirnya cew :p

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad