Sepintas Sosok yang Kutemui

8:55 pm

Mataku terpaku pada sosok wajah sederhana dari jendela pete-pete di depanku. Wajah yang tak begitu cantik, biasa saja, hanya terlihat begitu menarik dengan caranya sendiri. Rambutnya yang ia gulung ke atas, menampakkan struktur tulang pipi yang tinggi itu terlihat sibuk berfikir. Matanya, matanya membuat ku merinding, mata yang penuh duka. Ingin rasanya ku pacu kendaraanku agar dapat bersisian dengan pete-pete itu, sehingga wajahnya dapat ku lihat dengan jelas. Wajah yang begitu menarik, yang menghantui mimpi-mimpi liarku selama ini.
.....

Seminggu kemudian...

Perempuan mungil dengan kulit kuning langsat kulihat berteduh di emperan toko tempat ku bekerja. Perempuan itu, pemilik sesosok wajah dari jendela pete-pete, perempuan yang kutemui dalam mimpi-mimpi ku. Kurasa cuaca yang tidak menentu, memaksanya mencari perlindungan dari hujan yang menggigilkan tulang-belulang.

Terbersit rasa ingin menyapanya, tapi kuurungkan saat melihat tatapannya yang sedingin es dan postur tubuhnya yang kaku seakan meneriakiku "Jangan ganggu aku!!!"
Hujan semakin deras, guntur dan halilintar bergantian menyela, senjapun perlahan turun. Dia mulai gelisah. Sesekali mengecek jam dan memainkan HP-nya. "Mungkinkah dia menunggu seseorang?"

Tak beberapa lama, senjapun lenyap ditelan malam. Hujan tidak sedikitpun bertanda akan berhenti. Satu kebulatan tekad kulihat terlukis diwajahnya yang manis. Ya, dia sangat manis setelah kulihat dari dekat. Tapi sayang, wajah manis itu tak sedikitpun dibalut tawa. Duka. Hanya duka dan kekecewaan.

Sekali lagi dia mengecek jamnya, kemudian ia berlari menembus hujan dan lenyap dibalik tirai air tersebut. Sial sebenarnya. Saat itu aku sudah bertekad untuk menawarkannya sebuah payung dan berharap bisa sedikit mendengarkan suaranya.
.....

Dua hari kemudian...

Apakah ini pertanda? Akan adanya suatu perkenalan? Aku bertemu dengannya lagi. Di sebuah pusat perbelanjaan, saat aku membeli beberapa buku. Aku melihatnya...
Dengan tawa diwajah dan matanya. Dengan canda yang sesekali terlontar dari bibir manisnya. Bersama kedua temannya, dia tampak begitu berbeda dari dua pertemuan yang lalu. Bila dapat dikatakan itu sebuah pertemuan.

Mawar namanya, begitu kudengar teman-temannya memanggilnya. Mawar... Nama yang indah, seindah pemiliknya. Sayang... Seperti pertemuan-pertemuan yang lalu, dia berlalu. Dia menghilang diantara lautan orang-orang yang memadati pusat perbelanjaan ini. Dan aku, hanya bisa terpekur, mematung, melongo, dan tak jua memiliki keberanian untuk menyapanya. Sebuah perasaan berbisik, "Ini pertemuan terakhirku dengannya." Hanya tinggal sesal di sini.

Seminggu...

Sebulan...

Setahun...

Tak pernah lagi sosoknya kulihat dalam hidup ku, bahkan dalam mimpi ku. Wajahnya kian memudar dari sela-sela ingatanku. Senyuman manis dari pertemuan setahun yang lalu hanya tinggal bayangan samar.

“Satu karavan sudah berhenti, satu caravan lain akan berangkat. Aku akan berjumpa dengan orang-orang baru; aku tak akan berjumpa lagi dengan sebahagian orang lain. Ada orang yang kelak akan meninggalkanku, ada orang yang hanya akan berpapasan denganku. Bahkan bila kita telah bertukar sapa pun, perlahan-lahan kenangan akan hilang. Aku harus tetap berjalan, seperti aliran sungai di depan mataku.”
_Moonlight Shadow, Banana Yoshimoto

*Gambar diambil di sini

You Might Also Like

7 comments

  1. Fiksi kah ini? Jadi inget gadis pete2ku juga

    ReplyDelete
  2. Ia cerita ini fiksi :)
    terinspirasi saat naik pete-pete terus ada orang naik motor yang liatin terus :D

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. bagus, saya suka alurnya.

    ReplyDelete
  5. bagus, saya suka jalan ceritanya

    ReplyDelete
  6. waaaaa.... senengnya ada yang puji :p jadi semangat nulis fiksi lagi \(^O^)/

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad