Anak-anak Lelong

8:32 pm

-->

Aku kagum dengan seorang anak kecil yang kujumpai saat membeli ikan di lelong untuk ransum di samalona nanti. Dia seorang anak lelaki yang putih dan kurus kering. Tapi jangan sangka dia lemah, dia sanggup membawa dua kantong besar pelastik yang berisikan ikan-ikan yang besar. Dia kewalahan memang, tapi dia tidak sedikitpun mengeluh.

Mungkin bagi kalian yang tidak pernah menjejakkan kaki di pasar lelong yang juga kuakui baru pertama kalinya kudatangi, bertanya-tanya, apa yang dilakukan seorang anak kecil di sana? Tapi bukan hanya dia yang ada di sana, banyak anak kecil di sana, laki-laki dan perempuan. Mereka menjadi kuli pengangkut, mengangkut ikan-ikan yang telah dibeli oleh ibu-ibu dan bapak-bapak. Mereka tidak menetapkan tarif, berapapun, seikhlas ibu-ibu dan bapak-bapak
Kembali kepada si anak kecil yang kukagumi, aku hanya berani bercerita tentang dia, bukan tentang anak-anak lelong secara keseluruhan, karena aku hanya mengenalnya, itupun tidak sampai setengah jam dan aku tidak tahu apakah dia mewakili sifat anak-anak lelong lainnya atau hanya dia yang berbeda.

Dia sering tersenyum selama kami bertemu. Aku menyesal tidak mengajaknya bicara, aku hanya diam seperti nyonya-nyonya besar yang merasa malu berdekatan dengan anak-anak pasar. Jika bisa memberikan pembelaan, saat itu disekitar kami sangat bising dengan suara-suara penjual ikan yang menawarkankan dagangannya juga suara pembeli yang berusaha menawar serendah-rendahnya dan nelayan yang berteriak “Minggir-minggir”, saat mengangkat ikan-ikannya ke penjual. Juga ketidaknyamanan ku yang baru pertama kalinya melihat pasar ikan dengan mata kepala sendiri. Tentu saja aku membalas senyumannya dan juga senyuman penjual-penjual di sana. Begitu murah senyum orang-orang di sana. Kuharap mereka tidak melihat kerisihan ku di sana. Terlebih saat disuruh memilih ikan dan menawarnya, aku diam seribu bahasa, tidak mampu berkata-kata. Jika disuruh memilih cakar dan menawarnya, tentu aku bisa tapi ini dua hal yang sangat berbeda. Aku tidak tahu bagaimana rupa ikan yang segar dan berapa seharusnya harganya. Aku tidak tahu dan tidak memiliki pengalaman sama sekali. Aku hanya tahu ikan laut yang enak itu ikan baronang, ikan kakap, ikan kudu-kudu dll, tanpa mengetahui rupa ikan itu sebelum terhidang di meja.Maka tugas itu kuserahkan kepada teman ku. Tamanku lah yang memilih ikan dan menawarnya dan aku serupa ekornya yang mengikutinya kemanapun. Aku memilih diam dan mengamati juga tersenyum-senyum membalas senyum orang-orang di sana.

Aku melihat anak itu, memperhatikannya. Dia mondar-mandir mengisi kantong pelastiknya dengan ikan-ikan yang kami beli. Sekali lagi tanpa rupa kesal dan tidak ada keluhan sedikitpun mengenai kami yang mondar-mandir tidak tentu arah dan belum yakin ikan apa yang ingin dibeli. Dia kuat atau berusaha kuat.
Saat selesai membeli ikan yang lumayan banyak, saya dan teman ku bergegas menuju motor yang di parkir di luar. Aku menoleh sedikit, kulihat dia mulai tertinggal. Langkah kami yang tergesa-gesa mungkin menyulitkannya. Dia kadang berhenti dan meletakkan belanjaan kami sejenak lalu mengangkatnya lagi dengan lebih mantap dan menyusul kami. Aku berbalik dan meminta temanku agar lebih pelan berjalan, kasia anak kecil itu kewalahan.
Sesampainya di parkiran, teman ku menanyakan apakah dia tidak bersekolah? Yang dijawab dengan (juga!!!) senyum yang semakin melebar dan perkataan yang membuatku semakin kagum kepadanya; “Sekolah. Jam sepuluh nanti, ulanganka’.” Wow… Bukankah dia hebat kawan? Sepagi itu dia bangun untuk bekerja dan setelah itu sekolah lagi jam sepuluh, terlebih lagi harus ulangan. Kalau bukan karena ingin ke samalona bersama teman-teman ku, mungkin aku masih diranjang saat itu, memeluk guling dan terbuai mimpi indah. Tapi dia? Seorang anak kecil, tidak lebih berusia sembilan tahun, bangun sepagi itu untuk bekerja. Aku kagum apalagi bila membandingkannya dengan peminta-minta sepanjang pantai losari.
Aku memberikan uang kepadanya sebagai hasil kerja kerasnya mengangkat belanjaan kami. Sepuluh ribu tidak lebih, tapi diterimanya dengan senyum merekah dan sedikit loncatan senang dan ucapan terimakasih. Aku senang melihat reaksinya, saking senangnya sampai melupakan menanyakan namanya.
Dia pun berlalu dengan senyum terekah. Anak kecil yang kukagumi yang telah memberikan ku banyak pelajaran berharga dengan pertemuan kami yang tidak lebih setengah jam. Trimakasih atas pelajarannya. Semoga suatu hari nanti kau menjadi orang besar. Terimakasih, sekali lagi…

You Might Also Like

0 comments

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad