DINDA

10:29 am

Dinda ingin membentur-benturkan kepalanya di tembok atau mengiris-iris pergelangannya hari ini, tapi harga dirinya menghalanginya. Ia tak mau melukai tubuhnya walaupun mungkin rasanya melegakan. Ia tak mau dikasihani, padahal dia membutuhkan dikasihani sama seperti dia membutuhkan disayang dan dicintai.
Ia mendambakan dicintai dan disayang sekaligus membencinya.

“Bagaimana bila kuiris pergelanganku? Tapi aku tak ingin ada yang melihat bekasnya. Atau kuiris saja bagian tubuhku yang lainnya? Atau kuakhiri saja hidupku?”, katanya.
Sekali lagi harga diri menghalangi. Dinda tak ingin dikenang sebagai pengecut yang mengakhiri hidupnya. Lalu harus bagaimana?

Dinda…Dinda…
Dia gadis yang cantik dan memiliki banyak teman. Tak ada yang menyangka, Dinda gadis periang yang selalu tersenyum dan terlihat tangguh ternyata rapuh di dalam. Rusak, menurutku.
Senyum, sifat riang dan segalanya hanya kedok belaka. Dia rusak, rapuh bila disentuh sedikit saja akan pecah berhamburan.

Tak ada yang tahu apa masalah yang dihadapinya, bahkan tak ada yang menyangka dia punya masalah. Dia buku curhat temannya, pendengar setia. Tapi siapakah yang peduli kepadanya? Tahukah mereka kesedihannya? Tak ada. Dinda memang menutup dirinya. Bagaikan buku yang senantiasa tertutup, terlupakan di sudut teratas perpustakaan.

Melukai diri obsesi terbesarnya, hanya saja dia angkuh. Tak ingin terlihat rapuh, dia kuat!!! Harus terlihat kuat!!!
Maka mulailah dinda merusak mentalnya, merusak jiwanya.

Hari ini dia membayangkan mengiris-iris tangannya, besok ia membayangkan menusuk-nusuk perutnya, besoknya lagi dia membayangkan memotong-motong tangannya.
Besoknya lagi…
Besoknya…
Besoknya…

_ Makassar, 7 April 2010

You Might Also Like

2 comments

  1. Mungkin, mungkin juga dia hanya depresi, siapa yang tau? =p

    ReplyDelete

Terimakasih atas komentarnya :) Maaf untuk yang meninggalkan komen dengan link hidup, terpaksa saya hapus.

Part of B Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Beautiesquad